UTS OPINI


Sampai saat ini Presiden Jokowi belum sepenuhnya berhasil mengatasi pandemi Covid-19. Dapat dilihat masih ada peningkatan kasus positif yang melaju pesat secepat shinkansen, salah satunya di Wisma Atlet Kemayoran yang masih terus ada pasien positif berdatangan.

Salah satu pasien yang dikarantina di Wisma Atlet Kemayoran pada 24 Oktober 2020, mengatakan banyak sekali pasien baru berdatangan dan jumlah pasien yang satu lantai dengannya bertambah menjadi 36 orang dari yang sebelumnya ada 20 orang (saat ia pertama kali datang).

Kejadian ini menjadi salah satu bukti belum berhasilnya Presiden Jokowi dalam mengatasi pandemi Covid-19. Ada beberapa aspek yang saya lihat untuk mengukur keberhasilan Presiden Jokowi. Yang pertama aspek pencegahan, meskipun PSBB (pembatasan sosial berskala besar) sudah diterapkan dua kali, kasus positif masih terus ada. Salah satu penyebabnya adalah peraturan PSBB masih longgar, banyak masyarakat yang masih berpergian, berkerumun, dan tidak menggunakan APD (alat perlindungan diri) seperti masker dan face shield.

Yang kedua aspek siap dan tanggap pada tes dan hasil swab. Seperti yang kita tahu tes swab belum siap untuk dilakukan secara masal. Yang artinya bisa jadi ada masyarakat yang sebenarnya terinfeksi virus namun tidak memiliki gejala kontak dengan orang lain karena longgarnya PSBB lalu menularkan orang lain dan seterusnya hingga tercipta suatu klaster baru.

Salah satu pasien di Wisma Atlet Kemayoran mengatakan ia tidak tahu tertular virus dari mana, karena beberapa minggu terakhir dia stay di rumah dan berinteraksi dengan beberapa orang yang memiliki keperluan dengan orangtuanya. Memang jika dilihat beberapa bulan sebelumnya ia beberapa kali berpergian ke kampusnya, namun dia ragu bahwa itu penyebabnya karena gejala baru muncul jauh setelah ia tidak berpergian lagi.

Kemudian siap dan tanggap pada hasil tes swab positif. Setelah keluar hasil positif Covid-19 pihak faskes (fasilitas kesehatan) hanya memberi imbauan untuk isolasi mandiri dan tidak ada tindakan untuk melakukan tes pada orang yang pernah berinteraksi langsung dengan korban terutama keluarganya ucap salah satu pasien di Wisma Atlet Kemayoran.

Terakhir, aspek yang ketiga adalah ekonomi. Alasan mengapa Indonesia tidak melakukan lockdown seperti negara lain adalah takut terjadi kemerosotan ekonomi. Oleh karena itu saya berpikir dengan diberlakukannya PSBB, ekonomi masyarakat tidak akan terdampak, namun nyatanya tidak. Ekonomi masyarakat tetap terdampak akibat adanya pandemi.

Menurut saya daripada nanggung PSBB bukankan ada baiknya kita melakukan lockdown? Lockdown pun sama seperti PSBB hanya sebentar sampai dipastikan seluruh masyarakat melakukan tes masal dan juga gratis serta tidak terjadi peningkatan maupun lonjakan kasus positif. Atau bahkan sampai tidak ada kasus positif lagi.

Jika dilihat kebelakang tindakan Indonesia cenderung gegabah dan tidak belajar dari negara lain yang penanganannya baik. Dimulai dari saat negara lain mulai menutup akses dari luar negeri, Indonesia masih membuka akses tersebut. Lalu pada bulan Juni diberlakukan fase transisi di mana masyarakat semakin gencar berpergian dan semakin melonjaklah kasus positif.

Dan pemerintah masih belum belajar juga dari kejadian tersebut dengan tetap ingin melakukan pilkada. Apakah kasus akan melonjak lagi? Kita lihat saja nanti.

 

Komentar