RESUME
PEMUKA PENDAPAT
Komunikator politik dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: politikus, profesional, dan aktivis. Aktivis adalah komunikator politik sebagai saluran organisasi dan interpersonal (Nimmo, 2005). Pemuka pendapat termasuk dalam jenis aktivis sebagai saluran interpersonal (Pureklolon, 2016). Pemuka pendapat disebut sebagai komunikator politik karena cukup dihormati dan disegani oleh publik, contohnya adalah tokoh masyarakat. Dalam lingkup masyarakat kecil, kepala desa merupakan tokoh masyarakat yang dijadikan pemuka pendapat dalam pengambilan keputusan yang bersifat politik seperti memilih calon presiden dan gubernur. Saat memilih calon pemimpin, publik biasanya merasa bingung untuk memilih calon yang mana, lalu mereka pergi ke tokoh masyarakat yang dipercayai untuk meminta saran dalam memilih calon pemimpin tersebut. Saran dari tokoh masyarakat ini memiliki pengaruh yang besar terhadap pola pikir dan keputusan publik nantinya.
Fungsi dan kegunaan pemuka pendapat dapat dilihat dari penampilan mereka dalam dua bidang, yaitu:
1. Memengaruhi keputusan
Melalui saran mereka sebagai orang yang dipercaya, mereka meyakinkan masyarakat terhadap pilihannya yang berarti keputusan masyarakat turut dipengaruhi oleh pemuka pendapat.
2. Meneruskan informasi politik dari media massa kepada masyarakat
Berita mengalir dari media massa kepada pemuka pendapat lalu dialirkan lagi kepada masyarakat. Hal ini biasanya terjadi dalam masyarakat tradisional yang masih kesulitan mengakses media massa dan sibuk dengan mata pencahariannya.
Dalam melaksanakan fungsinya, pemuka pendapat memiliki kekuatan sebagai komunikator politik. Pemuka pendapat memiliki popularitas dan daya tarik tersendiri di hadapan publik, mereka juga adalah orang-orang pilihan yang dipercaya oleh publik. Oleh karena itu mereka sering digunakan oleh calon pemimpin untuk memperoleh suara pada pemilu dengan membayar pemuka pendapat untuk menggiring opini publik. Hal ini sah-sah saja dalam berpolitik karena biasanya calom pemimpin juga mengeluarkan biaya yang besar untuk mempromosikan dirinya. Beberapa pemuka pendapat membayar dan dibayar dalam memengaruhi keputusan publik. Contoh nyatanya adalah tokoh masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya dipengaruhi oleh anggota DPRD yang bertempat tinggal di lokasi yang sama dengan saya. Seperti saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, keputusan masyarakat digiring untuk memilih calon yang berasal dari partai yang sama dengan anggota DPRD tersebut.
Namun, tidak semua pemuka pendapat dapat dibayar atau ditunggangi kepentingan politik. Ada beberapa pemuka pendapat yang teguh dengan keyakinannya terhadap agama maupun adat istiadat mereka. Jadi publik boleh berspekulasi apakah saran dari pemuka pendapat itu murni atau tidak dan boleh memilih percaya atau tidak. Seperti belajar, dalam berpolitik menerima informasi harus disaring dari berbagai sumber tidak hanya dari satu sumber saja dengan cara meminta saran dari berbagai pemuka pendapat.
Referensi
Hasan, K. (2016). Diakses dari Repository Unimal
Nimmo, D., Rakhmat, J., & Surjaman, T. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pureklolon, T. T. (2016). Komunikasi Politik - Mempertahankan Integritas Akademisi, Politikus, dan Negarawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Shahreza, M. (2018). Proses dan Elemen-Elemen Komunikasi Politik. hal 7-17.
Siagian, H. F. (2012). Pengaruh Kredibilitas Komunikator Politik Untuk Mendapatkan Dukungan Khalayak dalam Pemilihan Umum. Jurnal Dakwah Tabligh Vol. 13, No. 2, hal 281-291.
Subiakto, H., & Ida, R. (2015). Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi. Jakarta: Prenada Media.
Komentar
Posting Komentar