Apa dan siapa sih yang dimaksud dengan pemuka pendapat sebagai komunikator politik itu? Mari kita bahas.
Komunikator utama dalam politik adalah politikus, professional, dan aktivis. Aktivis terbagi menjadi dua, organisasi dan interpersonal. Aktivis yang bergerak dalam bidang interpersonal adalah pemuka pendapat. Yang dimaksud dengan pemuka pendapat adalah orang-orang yang dipercayai dan dihormati oleh publik atau biasa disebut tokoh masyarakat (Nimmo, 2005; Subiakto, 20015). Tokoh masyarakat ada berbagai macam mulai yang bergerak dalam skala luas seperti kepala desa sampai yang bergerak dalam skala kecil seperti orangtua.
Lalu apa yang dilakukan oleh pemuka pendapat sebagai komunikator politik?
Menurut Nimmo (2005) pemuka pendapat bertindak dalam dua bidang, yaitu:
1. Memengaruhi keputusan
Sebagai orang yang dipercaya mereka mampu meyakinkan publik atas sarannya yang berarti keputusan publik turut dipengaruhi oleh pemuka pendapat.
2. Meneruskan informasi kepada publik
Informasi dari media massa sampai kepada pemuka pendapat, lalu disampaikan lagi kepada publik oleh pemuka pendapat.
Dapat dilihat bahwa mereka bertindak sebagai pihak yang memberi saran dan informasi kepada publik. Saran dari mereka ini berpengaruh besar pada keputusan publik nantinya. Sebagai contoh pada saat pemilu, publik pergi ke tokoh masyarakat yang dipercaya untuk meminta saran dalam meyakinkan keputusan mereka. Publik yang tadinya tidak sepaham atau bahkan belum memiliki keputusan pada akhirnya akan memiliki pemahaman yang sama dengan tokoh masyarakat tersebut. Hal ini yang dijadikan celah oleh calon pemimpin politik untuk mendapat suara publik. Membayar pemuka pendapat untuk menggiring opini publik hingga mendukung mereka. Namun tidak semua pemuka pendapat dibayar, ada yang memiliki sudut pandang sendiri mengenai politik seperti dilihat dari sisi keyakinannya terhadap agama maupun adat istiadat.
Sesuai penjabaran di atas, kita bisa memilih untuk menerima ataupun menolak saran pemuka pendapat. Kita boleh berspekulasi apakah pemuka pendapat yang kita percayai ditunggangi oleh pihak tertentu atau tidak. Seperti belajar kita harus menyaring informasi dari berbagai sumber, tidak hanya satu sumber saja begitu juga dengan berpolitik. Kita bisa meminta saran dari berbagai pemuka pendapat.
Referensi:
Hasan, K. (2016). diakses dari Repository Unimal
Nimmo, D., Rakhmat, J., & Surjaman, T. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pureklolon, T. T. (2016). Komunikasi Politik: Mempertahankan Integritas Akademi, Politikus, dan Negarawan. Jakarta: Gramedia.
Shahreza, M. (2018). Proses dan Elemen-Elemen Komunikasi Politik. hal 7-17.
Subiakto, H., & Ida, R. (2015). Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi. Jakarta: Prenada Media.
Komentar
Posting Komentar